We open Student Internship Program start on March 2012.
Just drop by our office to arrange time allocation. For those who already email us (thank you), please drop by directly between 10:00 to 17:00. Visit JOB link for detail.
February 27th, 2012
Going back to hotel after an exhausting joy during the day.
Took the las MRT to Tanjong Pagar, head back to …..
THE KLAPSONS Hotel
The Klapsons Hotel is one of Design Hotel member, with it’s unique concept. Designed by William Saway from Moroni & Saway product designer, it responses the essence of vibrant urban city. Located in between office buildings; even the hotel share the same footprint of an office building; it offers ‘public lobby’ concept. Something rare (and chalenging), because people moving around hotel may use the hotel lobby for transit, meeting point, have a little chat while having coffee before continue to their office, without having to be hotel guest. This is one reason why the designer move the reception back, and ‘caged’ it inside stylish stainless clad sphere.
Some pics from the lobby.
See the lighting color composition .. ? There is very thin line between ‘useful’ color changing light and the ‘meaningless’ ones. The key is programming! Tasteful color selection combined with thoughtful dynamic scenes will create soothing yet elegance ambiance.
< .... to be continued >
February 14th, 2012
ORCHARD
Night time is our time … and we never want to miss lighting experience at night. So after Erco, we head to Orchard.
Quite surprising, there were many (lighting) development that we found. Dynamic lighting were everywhere displayed along Orchard road.
Some of them were (sorry to say) meaningless :
(Tap / click here to see the video)
Some of them were done with big effort (and budget):
(Tap / click the here to see the video).
The ION above applied media facade installation.
There are debates on this media facade issue, whether it is lighting design or not. Personally, I divide this kind of installation into two situations:
1. Installation that support the architecture at night; which I called this lighting design;
2. Installation that doesn’t have symphatetic correlation with the architecture; which is (to me) not a lighting design
Anyway, let’s discuss this issue in other section.
Fortunately, there is one very clever example, done by our favourite lighting designer Spiers Major Associates :
(Tap / click here to see the video)
If you are creative enough, even monochrome dynamic light is able to become interesting, isn’t it?
Yuki & Moxi on one spot of Orchard ‘lighting decoration’. I’m not sure of floor recessed uplight in public space. Definitely not applicable in Indonesia… the vandalism
… the quality of detail works
. … yes, it should start with the people, ourselves… the man in the mirror.
February 12th, 2012
ERCO
Erco has been our most favorite fixtures (I believe many of lighting designer do as well). This is our first opportunity to visit Erco demo showroom in Singapore and experience their newly launched products.
Erco always has sophisticated demo room, to emphasize the essence of their business (and actually lighting design business); where the end product is light and human experience in light. Lighting fixtures are just tool to make that happened.
One snapshot of light demo. Does anybody see what is the interesting part … ?
Notice that this downlight produce different light distribution on different direction. See the light pattern on walls; on the left we see smooth wash light up to the soffit, while on the right we see more directional on the lower part of wall. This downlight concentrates the light more to one axis, hence an efficient tool to light up one surface when we do not want the light spill too much on the other direction. Just one example how we select the correct lighting fixture for specific application, put it on our specification document and hopefully not to be changed for whatever reason
One other snapshot just before we left Erco workspace; demonstration of depth created by balancing layers of light. This photo was selectively framed to share the idea. Blue color light as subtle background, cool white ambiance and warm white narrow spotlight aimed and enhanced the little yellow flowers give accentuation in foreground. Hope this inspiring something ..
Thanks to Mr. Sor for the hospitality during our visit. See you again soon.
February 9th, 2012
After hectic yet enjoyable design works all year long, finally we managed to spare our time to get out and refresh. This mid January 2012, all of us spent few days in Singapore; … being passion in light state of mind … ; exploring new ventures that enhance our perspective in light | architecture. Stay with us, and you may see what we care and what attract us.
Thanks to Steve, all pictures and videos were taken entirely in iPhone 4S
so that we can gladly share some as mobile wallpaper. Just go to download section, fill in your email (don’t worry, we NEVER share your emails to 3rd party), and start downloading.
Enjoy!
Beebo
Lumina Group
DAY ONE
Sleepy happy faces after landing from early flight,
…………………… . . . . .
Check in … and WOW !!
More review on this design hotel later. We just made a quick refreshment and head to our first appointment ….
ERCO ….
<End of part #1>
January 31st, 2012
Setelah sebelumnya sukses mengatasi masalah glare (silau) yang timbul akibat polusi cahaya yang masuk, dari pusat perbelanjaan yang berlokasi di depan restoran Barbecoa, kali ini Speirs and Major berhadapan dengan masalah energi.
Sang klien, chef Jamie Oliver dan Adam Perry Lang, sangat bersemangat untuk membuat restoran berkonsep green. Itu sebabnya, lighting architect dari Speirs and Major, Clementine Rodgers, harus memutar otak untuk menciptakan desain pencahayaan yang hemat energi, namun tetap membuat tatanannya cantik.
Poin pertama yang perlu diingat adalah karakter restoran yang ingin ditampilkan. Sang desainer interior, Tom Dixon, dan lighting designer sepakat untuk mewujudkan konsep ruang yang hangat namun tetap bersemangat (vibrant). Untuk mewujudkan semua itu, Speirs and Major bekerja sama dengan Tom untuk memastikan bahwa desain pencahayaan yang dibuat, mampu menonjolkan elemen-elemen dekoratif menarik dari desain interior restoran.
Bagaimana kaitannya dengan penghematan energi?
Untuk mewujudkan konsep pencahayaan yang hemat energi, hampir dapat dipastikan pilihan akan jatuh pada LED. Ya, pencahayaan restoran ini didominasi oleh LED, untuk downlighting dan accent lighting, untuk menonjolkan tekstur pada dinding, dan menerangi kolom. Sedangkan untuk menciptakan cahaya yang hangat (warm), di sekitar area dining, LED di area ini dilengkapi pula dengan warm filter.
Namun untuk lampu-lampu pendant yang khusus didesain oleh Tom Dixon, Speirs and Major memilih untuk menggunakan lampu tungsten, untuk menciptakan warm glow, yang tidak bisa didapat dari LED. Akibatnya, lampu-lampu ini menyedot konsumsi energi untuk lighting sebanyak 60%.
Clementine Rodgers mencoba menjelaskan pada klien, mengenai perbandingan antara penggunaan LED dan tungsten halogen, yang pada akhirnya membuktikan LED memang masih belum bisa menandingi “hangatnya” cahaya halogen. Keputusan pun akhirnya dibuat, sang klien tidak keberatan dengan penggunaan halogen pada lampu-lampu pendant.
Beberapa pertimbangan adalah, pertama, restoran ini dilengkapi dengan dimming lighting, sehingga intensitas cahayanya dapat diatur sesuai kebutuhan dan atmosfer yang diinginkan. Kedua, lampu tungsten atau halogen memang berumur pendek, namun ini sesuai dengan manajemen restoran yang memang melakukan peremajaan bangunan setiap tiga sampai lima tahun. Jadi, semuanya memang sudah diperhitungkan dengan seksama.
Selain menggunakan sistem dimming, pencahayaan di restoran ini juga menggunakan kontrol elektronik, yang juga sangat membantu dalam usaha pengalokasian energi yang efektif. Kontrol elektronik tadi bisa diset dalam beberapa pre-programmed lighting, sehingga dengan mudah klien bisa menentukan mana lampu yang harus nyala, mana yang harus mati, sesuai kebutuhan.
Melihat tata pencahayaan dari restoran ini, bisa kita simpulkan bahwa LED bukanlah solusi dari segala permasalahan pencahayaan. Jika memang dirasa tak mungkin menggunakan LED, artinya kita harus punya perencanaan solusi lainnya. Satu hal yang perlu diingat, hemat energi tidak selalu berarti harus mengonsumsi energi lebih sedikit. Pengalokasian energi yang efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan pun merupakan sebuah tindakan penghematan energi. Bagaimana menurut Anda? (Nisa)
July 17th, 2011
Jago memasak, berwajah menarik, dan populer, semua orang rasanya mengenal Jamie Oliver. Koki kelas dunia ini, akhir tahun lalu, membuka restoran barunya bermitra dengan seorang koki asal Amerika, Adam Perry Lang. Tapi Lumina tidak akan bicara soal restoran atau kuliner. Biarkan blog atau media lain yang membicarakan soal itu. Satu hal yang menarik dari restoran terbaru sang koki ganteng ini, yaitu penataan pencahayaannya, yang ditangani oleh Clementine Rodgers, dari Speirs and Major Lighting Architect.
Barbecoa, nama restoran baru Jamie Oliver ini, berada di lokasi yang langsung berhadapan dengan pusat perbelanjaan St. Paul, London. Lokasi demikian mengakibatkan sedikit “gangguan”, yaitu masuknya cahaya yang berlebihan dari lampu jalan dan gedung pusat perbelanjaan, ke area restoran. Cahaya yang tak diinginkan datangnya ini, dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan para pelanggan, karena menimbulkan glare (silau). Lantas apa solusi yang ditawarkan oleh Speirs and Major?
Untuk menghindarkan keadaan ruang menjadi terlalu terang, terutama pada malam hari, karena masuknya cahaya dari luar, maka lampu-lampu downlight tambahan yang ada di sekitar meja, dipadamkan. Sedangkan lampu-lampu lainnya diredupkan, karena semua lampu yang dipasang di restoran ini dimmable.
Sang desainer, Clementine Rodgers, mengatakan bahwa berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim-nya, masuknya banyak cahaya dari luar, membuat cahaya lilin saja sudah cukup untuk menerangi meja, di sore dan malam hari. Jika memang dirasa kurang, “permainan” dimmer bisa membantu.
Masuknya cahaya yang “berlebihan” tidak hanya terjadi saat malam hari, dari lampu jalan dan gedung pusat perbelanjaan. Area restoran ini juga dikelilingi dinding kaca, maka cahaya matahari yang masuk pun bisa menjadi masalah. Solusi dari masalah ini sederhana saja, decorative window blinds. Selain itu dimmable lighting juga memberikan solusi yang sangat efektif.
Masalah selesai? Tidak. Masih ada problem lain yang dihadapi. Nantikan kelanjutan ceritanya di blog post berikutnya dari Lumina, ya. (Nisa)
July 4th, 2011

Arsitek museum ini, Renzo Piano, banyak melakukan konsultasi dengan lighting designer, ARUP Lighting. Maka lahirlah desain museum yang banyak menggunakan elemen transparan, untuk memasukkan cukup cahaya matahari.
“Architecture is the masterly , correct, and magnificent play of volumes brought together in light.” – Le Corbusier
Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa cahaya berperan sangat penting dalam arsitektur sebuah bangunan. Bukan hanya dari segi fisik bangunannya, tak kalah penting adalah pengaruhnya pada fisik penghuni bangunan.
Bicara cahaya tidak semata-mata yang artifisial, cahaya alami (natural day light) pun harus jadi pertimbangan. Pasalnya kebanyakan manusia sekarang mulai melupakan betapa pentingnya terpaan sinar matahari bagi tubuh. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat kita menghabiskan lebih dari 50% waktu dalam sehari, berkegiatan di dalam ruangan, dengan penerangan cahaya artifisial.
Tahukah Anda bahwa cahaya matahari berpengaruh pada jam biologis manusia? Stimuli dari cahaya matahari pagi yang diterima oleh tubuh, diolah oleh otak, yang kemudian mengantarkan hormon yang berbeda pada waktu yang tepat. Dengan demikian, kita akan merasa aktif pada pagi dan siang hari, dan mengantuk pada malam hari.
Jangan kira perkara jam biologis ini sederhana, jika siklusnya terganggu bisa berakibat buruk pada kesehatan. Contoh gangguan jam biologis yang paling sederhana adalah insomnia atau sulit tidur di malam hari.
Desain pencahayaan (lighting) yang baik tentunya memasukkan cahaya alami juga dalam pertimbangan rancangan. Bukaan-bukaan lebar, pada dinding maupun plafon, membantu memasukkan banyak cahaya matahari ke dalam ruangan. Tak perlu khawatir panas, saat ini banyak produsen window blind yang membantu Anda mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk, sekaligus mempercantik jendela. Atau mengapa tidak, meminta arsitek atau lighting designer membuatkan kisi-kisi dengan pola menarik, untuk menciptakan permainan light and shadow yang cantik.
Satu hal lagi yang membuat cahaya alami penting, spektrum warna yang dimilikinya bersifat continuous, sehingga warna benda yang diteranginya akan lebih natural dan cerah. Tentunya tidak aka nada bola lampu yang bisa menandingi cahaya alami. Jadi, coba ingat kembali kapan terakhir kali ruangan dalam rumah dan kita – penghuninya – merasakan terpaan sinar matahari? (Nisa)
June 20th, 2011
Sederet kelebihan serta kepopuleran rupanya tidak lantas membuat LED diminati, terutama oleh orang awam. Padahal produk lampu berdesain cantik yang menggunakan bola lampu LED sudah banyak di pasaran. Edukasi mengenai betapa canggih dan hemat energinya bola lampu yang satu ini pun rasanya sudah gencar dilakukan. Lantas apa masalahnya? Harga.
Untuk orang awam, masyarakat golongan menengah, dimana bagi mereka biaya masih menjadi salah satu concern utama dalam membeli sebuah barang, harga LED yang masih tergolong tinggi tentu menjadi penghalang. Jangankan untuk beralih dan mengganti seluruh lampu di rumahnya dengan lampu LED, untuk mengganti beberapa bola lampu saja pun, mungkin mereka berpikir berkali-kali.
Teknologi LED memang sudah seharusnya mulai dikenal baik oleh masyarakat umum, bukan hanya oleh lighting designer, arsitek, atau desainer interior. Sudah waktunya pula, LED tidak hanya menghiasi gedung-gedung tinggi, hotel, atau bangunan publik lainnya. Terlebih jika dikaitkan dengan usaha menghemat konsumsi listrik dan mengurangi limbah. Ya, masalah lingkungan memang – mau tidak mau – selalu jadi pertimbangan.
Daripada terus menerus menjejali masyarakat dengan kecanggihan, manfaat, dan hal-hal positif LED, kemudian meminta mereka membeli, seperti yang banyak dilakukan oleh produsen-produsen lampu, ada baiknya pertimbangkan kesiapan masyarakat, terutama dalam hal ekonomi. Bukan lantas berhenti mengedukasi, kita bisa memberikan trik sederhana, bagi mereka yang berminat beralih ke LED, tanpa harus menguras kantong.
Jika budget tidak memungkinkan untuk mengganti seluruh bola lampu dengan LED, ganti beberapa saja. Pilih area atau ruang yang membutuhkan penerangan lampu dalam waktu lama, misalnya area yang tidak banyak terkena sinar matahari, padahal banyak aktivitas terjadi di sana. Area seperti inilah yang sebaiknya jadi prioritas utama penggantian bola lampu dengan LED.
Dengan demikian masyarakat tidak akan buru-buru mengecap LED sebagai lampu untuk orang kaya, karena harganya yang relatif mahal. Mengganti satu atau dua bola lampu dengan LED, bisa dilakukan siapa saja, tidak cuma mereka yang berkantong tebal. Semakin banyak yang merasakan manfaat LED, semakin mudah teknologi baru ini diterima masyarakat. Setuju? (Nisa)
June 8th, 2011
Sebagai bola lampu yang memiliki banyak sekali kelebihan, tak heran kalau LED jadi primadona. Semua orang membicarakan kelebihan-kelebihannya. Tapi sama halnya dengan produk apapun, selain punya kelebihan, LED pun punya kekurangan, yang mungkin jarang diceritakan.
Kali ini kita akan coba melihat, apa saja, sih, kekurangan LED?
1. Untuk urusan color rendering ternyata halogen masih jadi juara. Acuan color rendering terbaik tentu adalah sinar matahari, dengan indeks 100 Ra, indeks yang sama juga dimiliki lampu halogen. Sedangkan indeks color rendering LED rata-rata masih di bawah 80 Ra. Artinya, cahaya dari lampu LED belum bisa memantulkan warna sesuai warna asli benda yang disinarinya.
Wajar jika para lighting designer, arsitek, dan desainer interior, belum mau meninggalkan halogen, meskipun halogen relatif boros dan usia pakainya pendek.
2. Poin kelemahan LED berikutnya adalah spektrum warna. Untuk poin ini lagi-lagi pemenangnya adalah halogen. Spektrum warna pada LED masih terputus-putus (discrete), akibatnya cahaya yang dihasilkan tidak natural. Padahal mata manusia sudah terbiasa dengan spektrum warna dari cahaya matahari yang continous, seperti juga spektrum warna pada halogen.
3.Usia pakai LED memang disebut-sebut paling panjang, bahkan sebuah penelitian di Cambridge University, pada tahun 2009, mengklaim mampu membuat LED dengan usia pakai mencapai 100.000 jam. Pada kenyataannya usia pakai LED tidak pernah sesuai dengan klaim-klaim yang beredar. Bertahan hingga 50% saja sudah tergolong bagus. Apa pasal?
Ada dua hal yang berpotensi membuat usia pakai LED memendek. Pertama adalah LED rentan terhadap temperatur. LED terbentuk dari berbagai electronic chips. Sama seperti chip pada komputer yang memiliki batas toleransi terhadap panas lingkungannya, komponen elektronik LED pun akan menurun kualitasnya jika terus menerus terpapar panas.
Penyebab kedua adalah fluktuasi daya listrik. Hal ini berkaitan juga dengan komponen elektronik yang ada pada LED, khususnya driver. Seperti halnya fluorescent dan halogen, yang juga membutuhkan komponen elektronik, seperti driver atau ballast, fluktuasi arus listrik berpotensi merusak komponen elektronik pada LED, yang berakibat pada memendeknya usia pakai.
4. Kekurangan LED berikutnya adalah dalam hal inkonsistensi warna. Sebenarnya pada jenis lampu lain pun inkonsistensi warna kerap terjadi, tapi pada LED persentasenya masih lebih tinggi. Inkonsistensi ini terjadi antara lain karena perbedaan jenis reflektor yang digunakan, perbedaan komposisi fill in gas, atau berbagai permasalahan lain yang terjadi pada tahap produksi. Beruntung sekarang sudah ada produsen yang menyatakan bahwa produk LED mereka sudah memiliki konsistensi yang baik, namun jumlahnya masih sedikit jika dibandingkan dengan yang belum.
Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan sebuah produk, dalam hal ini LED, tentunya akan mempermudah kita untuk menggunakannya sesuai dengan kualitasnya. Dengan demikian kualitas cahaya yang dihasilkan pun lebih memuaskan. (Nisa)























