Photo: courtesy of James Newton

Setelah sebelumnya sukses mengatasi masalah glare (silau) yang timbul akibat polusi cahaya yang masuk, dari pusat perbelanjaan yang berlokasi di depan restoran Barbecoa, kali ini Speirs and Major berhadapan dengan masalah energi.

Sang klien, chef Jamie Oliver dan Adam Perry Lang, sangat bersemangat untuk membuat restoran berkonsep green. Itu sebabnya, lighting architect dari Speirs and Major, Clementine Rodgers, harus memutar otak untuk menciptakan desain pencahayaan yang hemat energi, namun tetap membuat tatanannya cantik.

Poin pertama yang perlu diingat adalah karakter restoran yang ingin ditampilkan. Sang desainer interior, Tom Dixon, dan lighting designer sepakat untuk mewujudkan konsep ruang yang hangat namun tetap bersemangat (vibrant).  Untuk mewujudkan semua itu, Speirs and Major bekerja sama dengan Tom untuk memastikan bahwa desain pencahayaan yang dibuat, mampu menonjolkan elemen-elemen dekoratif menarik dari desain interior restoran.

Bagaimana kaitannya dengan penghematan energi?

Untuk mewujudkan konsep pencahayaan yang hemat energi, hampir dapat dipastikan pilihan akan jatuh pada LED. Ya, pencahayaan restoran ini didominasi oleh LED, untuk downlighting dan accent lighting, untuk menonjolkan tekstur pada dinding, dan menerangi kolom.  Sedangkan untuk menciptakan cahaya yang hangat (warm), di sekitar area dining, LED di area ini dilengkapi pula dengan warm filter.

Photo: Courtesy of James Newton

Namun untuk lampu-lampu pendant yang khusus didesain oleh Tom Dixon, Speirs and Major memilih untuk menggunakan lampu tungsten, untuk menciptakan warm glow, yang tidak bisa didapat dari LED. Akibatnya, lampu-lampu ini menyedot konsumsi energi untuk lighting sebanyak 60%.

Clementine Rodgers mencoba menjelaskan pada klien, mengenai perbandingan antara penggunaan LED dan tungsten halogen, yang pada akhirnya membuktikan LED memang masih belum bisa menandingi “hangatnya” cahaya halogen. Keputusan pun akhirnya dibuat, sang klien tidak keberatan dengan penggunaan halogen pada lampu-lampu pendant.

Beberapa pertimbangan adalah, pertama, restoran ini dilengkapi dengan dimming lighting, sehingga intensitas cahayanya dapat diatur sesuai kebutuhan dan atmosfer yang diinginkan. Kedua, lampu tungsten atau halogen memang berumur pendek, namun ini sesuai dengan manajemen restoran yang memang melakukan peremajaan bangunan setiap tiga sampai lima tahun. Jadi, semuanya memang sudah diperhitungkan dengan seksama.

Selain menggunakan sistem dimming, pencahayaan di restoran ini juga menggunakan kontrol elektronik, yang juga sangat membantu dalam usaha pengalokasian energi yang efektif. Kontrol elektronik tadi bisa diset dalam beberapa pre-programmed lighting, sehingga dengan mudah klien bisa menentukan mana lampu yang harus nyala, mana yang harus mati, sesuai kebutuhan.

Melihat tata pencahayaan dari restoran ini, bisa kita simpulkan bahwa LED bukanlah solusi dari segala permasalahan pencahayaan. Jika memang dirasa tak mungkin menggunakan LED, artinya kita harus punya perencanaan solusi lainnya.  Satu hal yang perlu diingat, hemat energi tidak selalu berarti harus mengonsumsi energi lebih sedikit. Pengalokasian energi yang efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan pun merupakan sebuah tindakan penghematan energi. Bagaimana menurut Anda? (Nisa)

 

July 17th, 2011

Photo: Doc. Speirs and Major

Jago memasak, berwajah menarik, dan populer, semua orang rasanya mengenal Jamie Oliver. Koki kelas dunia ini, akhir tahun lalu, membuka restoran barunya bermitra dengan seorang koki asal Amerika, Adam Perry Lang. Tapi Lumina tidak akan bicara soal restoran atau kuliner. Biarkan blog atau media lain yang membicarakan soal itu. Satu hal yang menarik dari restoran terbaru sang koki ganteng ini, yaitu penataan pencahayaannya, yang ditangani oleh Clementine Rodgers, dari Speirs and Major Lighting Architect.

Barbecoa, nama restoran baru Jamie Oliver ini, berada di lokasi yang langsung berhadapan dengan pusat perbelanjaan St. Paul, London. Lokasi demikian mengakibatkan sedikit “gangguan”, yaitu masuknya cahaya yang berlebihan dari lampu jalan dan gedung pusat perbelanjaan, ke area restoran. Cahaya yang tak diinginkan datangnya ini, dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan para pelanggan, karena menimbulkan glare (silau). Lantas apa solusi yang ditawarkan oleh Speirs and Major?

Photo: Doc. Speirs and Major

Untuk menghindarkan keadaan ruang menjadi terlalu terang, terutama pada malam hari, karena masuknya cahaya dari luar, maka lampu-lampu downlight tambahan yang ada di sekitar meja, dipadamkan. Sedangkan lampu-lampu lainnya diredupkan, karena semua lampu yang dipasang di restoran ini dimmable.

Sang desainer, Clementine Rodgers, mengatakan bahwa berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim-nya,  masuknya banyak cahaya dari luar, membuat cahaya lilin saja sudah cukup untuk menerangi meja, di sore dan malam hari. Jika memang dirasa kurang, “permainan” dimmer bisa membantu.

Masuknya cahaya yang “berlebihan” tidak hanya terjadi saat malam hari, dari lampu jalan dan gedung pusat perbelanjaan. Area restoran ini juga dikelilingi dinding kaca, maka cahaya matahari yang masuk pun bisa menjadi masalah. Solusi dari masalah ini sederhana saja, decorative window blinds. Selain itu dimmable lighting juga memberikan solusi yang sangat efektif.

Masalah selesai? Tidak. Masih ada problem lain yang dihadapi. Nantikan kelanjutan ceritanya di blog post berikutnya dari Lumina, ya. (Nisa)

July 4th, 2011

 

Arsitek museum ini, Renzo Piano, banyak melakukan konsultasi dengan lighting designer, ARUP Lighting. Maka lahirlah desain museum yang banyak menggunakan elemen transparan, untuk memasukkan cukup cahaya matahari.

 

“Architecture is the masterly , correct, and magnificent play of volumes brought together in light.” – Le Corbusier

Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa cahaya berperan sangat penting dalam arsitektur sebuah bangunan. Bukan hanya dari segi fisik bangunannya, tak kalah penting adalah pengaruhnya pada fisik penghuni bangunan.

Bicara cahaya tidak semata-mata yang artifisial, cahaya alami (natural day light) pun harus jadi pertimbangan. Pasalnya kebanyakan manusia sekarang mulai melupakan betapa pentingnya terpaan sinar matahari bagi tubuh. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat kita menghabiskan lebih dari 50% waktu dalam sehari, berkegiatan di dalam ruangan, dengan penerangan cahaya artifisial.

Tahukah Anda bahwa cahaya matahari berpengaruh pada jam biologis manusia? Stimuli dari cahaya matahari pagi yang diterima oleh tubuh, diolah oleh otak, yang kemudian mengantarkan hormon yang berbeda pada waktu yang tepat. Dengan demikian, kita akan merasa aktif pada pagi dan siang hari, dan mengantuk pada malam hari.

Jangan kira perkara jam biologis ini sederhana, jika siklusnya terganggu bisa berakibat buruk pada kesehatan. Contoh gangguan jam biologis yang paling sederhana adalah insomnia atau sulit tidur di malam hari.

Desain pencahayaan (lighting) yang baik tentunya memasukkan cahaya alami juga dalam pertimbangan rancangan. Bukaan-bukaan lebar, pada dinding maupun plafon, membantu memasukkan banyak cahaya matahari ke dalam ruangan. Tak perlu khawatir panas, saat ini banyak produsen window blind yang membantu Anda mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk, sekaligus mempercantik jendela. Atau mengapa tidak, meminta arsitek atau lighting designer membuatkan kisi-kisi dengan pola menarik, untuk menciptakan permainan light and shadow yang cantik.

Satu hal lagi yang membuat cahaya alami penting, spektrum warna yang dimilikinya bersifat continuous, sehingga warna benda yang diteranginya akan lebih natural dan cerah. Tentunya tidak aka nada bola lampu yang bisa menandingi cahaya alami. Jadi, coba ingat kembali kapan terakhir kali ruangan dalam rumah dan kita – penghuninya – merasakan terpaan sinar matahari? (Nisa)

June 20th, 2011

Sederet kelebihan serta kepopuleran rupanya tidak lantas membuat LED diminati, terutama oleh orang awam. Padahal produk lampu berdesain cantik yang menggunakan bola lampu LED sudah banyak di pasaran. Edukasi mengenai betapa canggih dan hemat energinya bola lampu yang satu ini pun rasanya sudah gencar dilakukan. Lantas apa masalahnya? Harga.

Untuk orang awam, masyarakat golongan menengah, dimana bagi mereka biaya masih menjadi salah satu concern utama dalam membeli sebuah barang, harga LED yang masih tergolong tinggi tentu menjadi penghalang. Jangankan untuk beralih dan mengganti seluruh lampu di rumahnya dengan lampu LED, untuk mengganti beberapa bola lampu saja pun, mungkin mereka berpikir berkali-kali.

Teknologi LED memang sudah seharusnya mulai dikenal baik oleh masyarakat umum, bukan hanya oleh lighting designer, arsitek, atau desainer interior. Sudah waktunya pula, LED tidak hanya menghiasi gedung-gedung tinggi, hotel, atau bangunan publik lainnya. Terlebih jika dikaitkan dengan usaha menghemat konsumsi listrik dan mengurangi limbah. Ya, masalah lingkungan memang – mau tidak mau – selalu jadi pertimbangan.

Daripada terus menerus menjejali masyarakat dengan kecanggihan, manfaat, dan hal-hal positif LED, kemudian meminta mereka membeli, seperti yang banyak dilakukan oleh produsen-produsen lampu, ada baiknya pertimbangkan kesiapan masyarakat, terutama dalam hal ekonomi. Bukan lantas berhenti mengedukasi, kita bisa memberikan trik sederhana, bagi mereka yang berminat beralih ke LED, tanpa harus menguras kantong.

Jika budget tidak memungkinkan untuk mengganti seluruh bola lampu dengan LED, ganti beberapa saja. Pilih area atau ruang yang membutuhkan penerangan lampu dalam waktu lama, misalnya area yang tidak banyak terkena sinar matahari, padahal banyak aktivitas terjadi di sana. Area seperti inilah yang sebaiknya jadi prioritas utama penggantian bola lampu dengan LED.

Dengan demikian masyarakat tidak akan buru-buru mengecap LED sebagai lampu untuk orang kaya, karena harganya yang relatif mahal. Mengganti satu atau dua bola lampu dengan LED, bisa dilakukan siapa saja, tidak cuma mereka yang berkantong tebal. Semakin banyak yang merasakan manfaat LED, semakin mudah teknologi baru ini diterima masyarakat. Setuju? (Nisa)

June 8th, 2011

It is called Spiralight, designed by Robin Carpenter

Sebagai bola lampu yang memiliki banyak sekali kelebihan, tak heran kalau LED jadi primadona. Semua orang membicarakan kelebihan-kelebihannya. Tapi sama halnya dengan produk apapun, selain punya kelebihan, LED pun punya kekurangan, yang mungkin jarang diceritakan.

Kali ini kita akan coba melihat, apa saja, sih, kekurangan LED?

1. Untuk urusan color rendering ternyata halogen masih jadi juara. Acuan color rendering terbaik tentu adalah sinar matahari, dengan indeks 100 Ra, indeks yang sama juga dimiliki lampu halogen. Sedangkan indeks color rendering LED rata-rata masih di bawah 80 Ra. Artinya, cahaya dari lampu LED belum bisa memantulkan warna sesuai warna asli benda yang disinarinya.

Wajar jika para lighting designer, arsitek, dan desainer interior, belum mau meninggalkan halogen, meskipun halogen relatif boros dan usia pakainya pendek.

2. Poin kelemahan LED berikutnya adalah spektrum warna. Untuk poin ini lagi-lagi pemenangnya adalah halogen. Spektrum warna pada LED masih terputus-putus (discrete), akibatnya cahaya yang dihasilkan tidak natural. Padahal mata manusia sudah terbiasa dengan spektrum warna dari cahaya matahari yang continous, seperti juga spektrum warna pada halogen.

3.Usia pakai LED memang disebut-sebut paling panjang, bahkan sebuah penelitian di Cambridge University, pada tahun 2009, mengklaim mampu membuat LED dengan usia pakai mencapai 100.000 jam. Pada kenyataannya usia pakai LED tidak pernah sesuai dengan klaim-klaim yang beredar. Bertahan hingga 50% saja sudah tergolong bagus. Apa pasal?

Ada dua hal yang berpotensi membuat usia pakai LED memendek. Pertama adalah LED rentan terhadap temperatur. LED terbentuk dari berbagai electronic chips. Sama seperti chip pada komputer yang memiliki batas toleransi terhadap panas lingkungannya, komponen elektronik LED pun akan menurun kualitasnya jika terus menerus terpapar panas.

Penyebab kedua adalah fluktuasi daya listrik. Hal ini berkaitan juga dengan komponen elektronik yang ada pada LED, khususnya driver. Seperti halnya fluorescent dan halogen, yang juga membutuhkan komponen elektronik, seperti driver atau ballast, fluktuasi arus listrik berpotensi merusak komponen elektronik pada LED, yang berakibat pada memendeknya usia pakai.

4. Kekurangan LED berikutnya adalah dalam hal inkonsistensi warna. Sebenarnya pada jenis lampu lain pun inkonsistensi warna kerap terjadi, tapi pada LED persentasenya masih lebih tinggi. Inkonsistensi ini terjadi antara lain karena perbedaan jenis reflektor yang digunakan, perbedaan komposisi fill in gas, atau berbagai permasalahan lain yang terjadi pada tahap produksi. Beruntung sekarang sudah ada produsen yang menyatakan bahwa produk LED mereka sudah memiliki konsistensi yang baik, namun jumlahnya masih sedikit jika dibandingkan dengan yang belum.

Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan sebuah produk, dalam hal ini LED, tentunya akan mempermudah kita untuk menggunakannya sesuai dengan kualitasnya. Dengan demikian kualitas cahaya yang dihasilkan pun lebih memuaskan. (Nisa)

May 9th, 2011

Ada dua hal yang jadi pokok perhatian saat menata pencahayaan untuk rumah mungil, alokasi daya dan biaya. Alokasi daya menjadi krusial, karena rumah-rumah mungil biasanya memiliki daya listrik yang tidak terlalu besar, maksimal mungkin 2200 watt.

Hal pertama yang perlu dilakukan, sebelum menata pencahayaan di rumah mungil adalah menghitung pembagian daya listrik, untuk seluruh peralatan rumah yang menggunakan listrik. Setelah mendapatkan alokasi daya listrik untuk lampu, barulah kita bisa memulai pembagian alokasi daya untuk lampu, di setiap ruangan. Prinsip dasarnya adalah alokasikan daya lebih besar pada ruangan-ruangan yang di dalamnya terdapat banyak aktivitas.

Pembagian alokasi daya ini nantinya akan membantu pada pemilihan jenis lampu (bohlam) yang akan ditempatkan. Lampu hemat energi, seperti fluorescent atau compact fluorescent (CFL) bisa jadi pilihan. Mengapa bukan LED? Karena hingga saat ini harga lampu LED masih terbilang mahal. Sedangkan seperti sudah disebutkan sebelumnya, salah satu poin yang harus diperhitungkan pada pencahayaan rumah mungil adalah biaya.

Jika memang bajet mencukupi untuk penggunaan LED, tempatkan hanya di area-area yang tidak terkena sinar matahari atau area dimana lampu harus terus menyala. Dengan demikian konsumsi listrik di area-area tersebut bisa diminimalisasi.

Setelah pembagian daya untuk setiap ruangan, lakukan juga pembagian kelompok (grouping) lampu. Misalnya, pada ruang makan yang menyatu dengan dapur, bisa kita kelompokkan menjadi tiga grup lampu. Pendant lamp (lampu gantung) sebagai penerangan utama, spot lighting sebagai accent light pada niche atau artwork dinding, dan penerangan untuk area kerja, yang biasanya dipasang di bawah kabinet gantung, kitchen set.

Setiap grup lampu tadi diwakili oleh satu stop kontak, dengan demikian akan lebih mudah mengaturnya. Saat seluruh keluarga berkumpul dan membutuhkan pencahayaan terang agar suasana lebih ceria, bisa menyalakan semua lampu. Pada waktu lain, mungkin menyalakan pendant lamp saja cukup, maka lampu-lampu lain bisa dimatikan. Malam hari saat akan tidur, cukup nyalakan spot light atau penerangan kitchen set saja. Dengan demikian, konsumsi listrik bisa dikendalikan. Konsumsi listrik terkendali, biaya listrik pun lebih hemat.

Trik lain yang selalu jitu untuk mengendalikan konsumsi listrik pada pencahayaan, sekaligus mempermudah pengaturan mood ruangan adalah dimmer. Atur intensitas cahaya lampu sesuai dengan kebutuhan dan atmosfer yang ingin diciptakan.

Apakah ini hanya berlaku untuk rumah mungil? Tidak juga. Berhemat memang sebaiknya dilakukan dimana saja, bukan? Rumah besar maupun kecil. (Nisa)

May 2nd, 2011

Darimana kita tahu sebuah produk, keramik lantai misalnya, memiliki kualitas yang baik? Tentunya dari hasil pengujian yang dilakukan untuk setiap keping keramik. Hal yang sama pun berlaku untuk LED. Sebelum dipasarkan lampu-lampu LED melalui tahap pengujian, untuk memastikan kualitasnya. Tahap pengujian tersebut dinamakan binning process.

Pada keramik ada banyak poin yang diujikan, untuk memastikan kualitasnya. Misalnya, ketahanan terhadap beban, daya serap air, dan sebagainya. Pada LED ada empat hal yang harus dibuktikan melalui proses binning, yaitu konsistensi warna, colour rendering, usia pakai (lifetime), dan efikasi (jumlah cahaya per daya) yang dinyatakan dalam satuan lumen per watt (LPW).

Setiap manufaktur LED punya standar soal keempat poin tadi. Nah, fungsi binning adalah memastikan setiap LED yang dihasilkan memenuhi standar tersebut. Jika sebuah lampu LED memenuhi setiap standar, maka ia akan memperoleh predikat Bin 1. Predikat ini terus menurun ke Bin 2, Bin 3, dan seterusnya, sesuai dengan tingkat pemenuhan standar kualitas dari setiap lampu LED yang diuji. Makin besar angka Bin-nya, artinya makin tidak memenuhi standarlah si lampu yang diuji.

Dari hasil binning ini, hanya lampu berpredikat Bin 1 dan Bin 2 yang dinyatakan lulus dan siap dipasarkan. Perlu Anda tahu, jumlah LED yang lulus proses binning tidak pernah lebih dari 50% dari keseluruhan jumlah LED yang diuji. Tak mengherankan jika harga lampu LED terbilang tinggi.

Lalu bagaimana nasib lampu-lampu LED dengan predikat Bin 3 dan seterusnya? Lampu-lampu ini tetap dijual juga, karena tidak lulus binning bukan berarti tidak bisa dipakai. Ada yang berakhir di factory outlet LED, ada yang digunakan untuk lampu-lampu dekoratif sepeda motor, dan sebagainya. Harganya pun jelas lebih rendah daripada LED yang lulus uji.

Dikarenakan masing-masing manufaktur LED punya standar sendiri soal kualitas LED mereka, bisa jadi antara LED dari satu manufaktur dengan manufaktur lainnya berbeda, terutama cahaya dan warna yang dihasilkan. Nah, demi menjaga konsistensi warna dan cahaya ini, sejak beberapa tahun lalu, American National Standards Institute (ANSI) dan The National Electrical Manufacturers Association (NEMA) sudah membuat standar khusus untuk warna dan cahaya. Dengan demikian semua manufaktur LED punya patokan standar yang sama, khususnya untuk dua hal tadi.

Berita terbaru, ada salah satu manufaktur yang sudah berani menyatakan kebebasannya dari proses binning (freedom from binning). Perusahaan ini yakin bahwa lampu-lampu LED produksi mereka tidak perlu melalui proses color bin, karena sudah diuji berdasarkan keadaan nyata (actuall operating).

Perusahaan ini menjelaskan dalam press release-nya, bahwa selama ini lampu-lampu LED, dalam datasheet-nya menuliskan temperatur 25°C, padahal dalam penggunaan sebenarnya LED bisa mencapai temperatur 85°C bahkan lebih. Nah, perusahaan yang satu ini sudah lebih dulu menguji produk LED mereka pada suhu tersebut. Sehingga mereka yakin, meski tidak melalui proses binning, lampu-lampu LED mereka sudah pasti tidak akan mengalami penurunan kualitas. Sejauh ini sepertinya baru satu perusahaan yang berani menyatakan produknya berkualitas, meski tidak melalui proses binning. Bagaimana dengan perusahaan lain, kita tunggu perkembangan berikutnya. (Nisa)

April 7th, 2011

Lighting by Speirs and Major Associates

Saat melihat foto jembatan ini, Anda mungkin merasakan apa yang saya rasakan, kagum. Bukan semata-mata karena desain Infinity Bridge – nama jembatan di foto ini – melainkan karena penataan cahayanya yang juga luar biasa.

Lumina pernah mem-posting beberapa foto Infinity Bridge, yang pencahayaannya dikerjakan oleh salah satu konsultan lighting kenamaan dunia, Speirs and Major Associates, di halaman fan page-nya di facebook. Bagi yang sudah pernah melihat, mungkin sudah tahu bahwa kemegahan tata cahaya jembatan ini, tidak lepas dari kecanggihan jenis lampu yang digunakan, LED.

Tidak hanya pada Infinity Bridge, rasanya LED sudah menjadi teknologi “mutlak” untuk menciptakan desain pencahayaan yang luar biasa menarik, namun hemat energi. Berbagai kelebihan yang dimiliki bola lampu berteknologi terkini ini, membuatnya populer di telinga siapa saja. Lighting designer, arsitek, hingga orang awam. Jadi, sepertinya tak perlu lagi kita berpanjang lebar membicarakan keunggulan-keunggulan lampu LED ini.

Tapi tahukah Anda bagaimana LED bisa sampai di tangan Anda, para konsumen? Perjalanan apa saja yang dilaluinya, sebelum sampai di tangan manufaktur yang kemudian memasarkannya?

Umumnya kita menemukan LED sudah dalam bentuk bola lampu, yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan manufaktur lampu, yang kita kenal. Tak banyak yang tahu bahwa sebelum berbentuk bola lampu, LED dijual dalam bentuk substrate (lihat gambar). LED substrate diproduksi oleh perusahaan-perusahaan manufaktur, seperti Cree, Luxeon, Seoul Semi Conductor, Ge, Samsung, LG, dan sebagainya. LED substrate inilah yang kemudian dibeli oleh perusahaan manufaktur lampu, yang kemudian melakukan proses packaging, hingga berbentuk bola lampu, seperti yang biasa kita lihat.

Sebelum sampai di pasar, LED juga melalui proses uji kualitas yang dinamakan binning process. Tahap uji kualitas ini akan melahirkan tingkatan-tingkatan kualitas LED, mulai dari Bin 1, Bin 2, Bin 3, dan seterusnya. Dari sekian tingkatan, hanya LED yang memiliki kualitas Bin 1 dan 2 yang dinyatakan lolos uji.  Menurut para produsen, jumlah LED yang lulus uji ini tidak pernah lebih dari 50% dari seluruh LED yang diuji. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa harga LED relatif tinggi.

Proses pengujian atau binning process ini dilakukan sendiri oleh setiap manufaktur. Artinya belum ada lembaga resmi yang melakukan pengujian dan mengeluarkan sertifikasi standardisasi kualitas LED. Hal ini memang sedikit menyulitkan bagi kita, para konsumen, untuk memastikan kualias LED yang kita beli. Satu-satunya cara untuk menjamin kualitas LED, adalah dengan membeli produk dari brand-brand terpercaya, atau sudah kita kenal kualitasnya.

Begitu pula jika kita ingin menjaga kontinuitas kualitas cahaya dan warna dari LED yang kita gunakan. Sangat mungkin terjadi perbedaan pada cahaya dan warna, antara LED yang diproduksi oleh perusahaan satu dengan lainnya. Jadi, jika kita sudah menemukan LED yang pas dengan keinginan dan kebutuhan, alangkah lebih baik jika kita tetap membeli dari perusahaan yang sama. Apalagi kalau LED-LED tadi digunakan untuk satu proyek lighting yang sama.

Apa yang kita bicarakan barusan baru sekelumit dari “misteri” LED, yang mungkin belum banyak kita ketahui. Dengan lebih mengenal teknologi lampu terkini ini, Anda akan lebih mudah menentukan, apakah kita benar-benar harus mengganti semua bola lampu dengan LED? Atau benarkah LED adalah solusi untuk segala permasalah tata pencahayaan? Kita akan berkenalan lebih jauh dengan LED, di artikel-artikel blog berikutnya. (Nisa)

March 20th, 2011

Dua hal yang bertolak belakang, yang satu penyebab, yang lain akibat, ternyata jika disatukan mampu menciptakan karakter dramatis yang menarik. Itulah persisnya yang terjadi dengan cahaya dan bayangan (lights and shadow).

Dalam dunia lighting design, walaupun bicaranya tentang cahaya, bukan berarti harus terang sampai ke segala sudut ruangan. Bayangkan berada di ruangan yang seluruhnya terang benderang, apa yang Anda rasakan? Mungkin datar-datar saja, tidak ada gereget-nya. Si gereget inilah yang bisa dihasilkan, salah satunya, dengan permainan lights and shadow.

Permainan cahaya dan bayangan, yang paling umum kita lihat, adalah yang dibuat dengan menempatkan kisi-kisi di jendela. Saat cahaya matahari masuk, terciptalah bayangan di dinding atau lantai, yang terbentuk dari kisi-kisi tadi. Ini adalah cara yang paling sederhana, dan kebanyakan tidak disengaja juga.

Coba perhatikan di rumah Anda, di area-area yang kerap panas karena diterpa banyak cahaya matahari. Kalau ada jendela di sana, yang kebetulan diberi kisi-kisi atau teralis berpola menarik, Anda akan menemukan bentuk bayangan yang cantik, di lantai. Jika sebelumnya Anda belum pernah memperhatikan, maka temuan ini akan jadi kejutan.

Ada pula permainan cahaya yang memang direncanakan sebelumnya, untuk menciptakan elemen dekoratif alami, yang seru. Mengapa dikatakan seru? Pasalnya, untuk melihatnya tidak bisa setiap saat, hanya saat cahaya matahari cerah jatuh pada titik yang ditentukan. Misalnya, dengan membuat barisan tembok-tembok, yang ket

ika diterpa matahari akan menciptakan bayangan garis-garis di lantai. Lebih menarik lagi, garis-garis ini akan bergerak miring mengikuti pergerakan matahari. Menakjubkan!

Tidak hanya pada ruangan, efek lights and shadows kemudian banyak diadaptasi pada produk-produk lampu, terutama lampu tidur anak-anak. Pasti sebagian besar dari Anda pernah melihat lampu tidur yang ketika dinyalakan bisa menghasilkan bayangan-bayangan lucu di dinding kamar. Entah itu bayangan yang membentuk benda-benda langit, maupun hewan dan tumbuhan.

Seru, kan, bermain hubungan sebab-akibat dalam bidang lighting? Coba ciptakan permainan lights and shadow kreasi Anda sendiri. (Nisa)

February 6th, 2011

Salah satu “ancaman” menakutkan saat mengunjungi mall atau pusat perbelanjaan besar adalah, tersesat. “Ketakutan” ini ditangani dengan sangat baik oleh arsitek dan desainer interior Siam Paragon. Terbukti dengan ditempatkannya banyak aksen-aksen menarik sebagai poin penanda keberadaan kita.

Salah satu mall terkemuka di Bangkok, Thailand, ini menggunakan elemen air di beberapa sudut ruang dalamnya. Keberadaan elemen cair ini ditujukan untuk menjadi “penyejuk” bagi para pengunjung yang mungkin lelah berjalan berkeliling mall. Atas alasan ini pulalah, café dan food station ditempatkan di area “berair” tersebut.

Permainan indirect light masih dilakukan di salah satu area café, untuk memberikan nuansa langit yang terang. Di bagian lain, salah satu café mengecat plafonnya dengan warna hitam, kemudian menghiasnya dengan titik-titik fiber optic, untuk menciptakan pemandangan bintang di langit malam. Kreatif, ya!

Salah satu elemen area paling atraktif di mall ini adalah kolam hijau, yang ditempatkan di foyer. Dengan paduan komposisi tanaman, cermin, dan air yang pas dan menarik, area ini menjadi ikon yang paling diingat oleh banyak pengunjung Siam Paragon.

Permainan warna hijau dan gemericik air memberikan kesejukan seara visual. Memandang si hijau, mata beristirahat dari dominasi cahaya warm white yang diaplikasikan di seluruh interior mall.

Kurang sreg rasanya kalau belum bicara soal lighting design-nya. Seperti yang sudah diaplikasikan di hampir seluruh mall, kali ini triknya pun sederhana, namun berhasil memberikan efek luar biasa. Dibuat seperi sinar matahari yang jatuh ke permukaan kolam, ditempatkanlah sejumlah high power downlight, di plafon, di bagian atas kolam.

Terbukti, kan, trik-trik sederhana pun bisa menciptakan suasana yang luar biasa, asalkan mampu membuat karakter bangunan tampak kuat. Lebih penting lagi, membuat siapapun yang berada di dalamnya, nyaman dan terkesan. Mahal sama sekali bukan jawaban untuk membuat desain yang menarik. (NISA-Disarikan ulang dari tulisan Abdi Ahsan, “Pelajaran dari Negara Tetangga: Smart Design Solution di Siam Paragon, Bangkok”)

Foto: Abdi Ahsan (Lumina)

January 23rd, 2011